kolom cak Nur

DAMAI DI BUMI, DAN BAHAGIALAH SEMUA MANUSIA*

Oleh : Nurcholish Madjid – Februari 2001

Malam ini kita berkumpul untuk menyisihkan waktu sejenak, merenungkan makna perkembangan negara dan bangsa kita, mencoba menarik hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Yang sedang kita saksikan saat-saat ini ialah suatu fase dalam rentetan proses perkembangan sebuah bangsa besar dan pertumbuhannya menuju keseimbangan baru. Cita-cita luhur kebangsaan dan kenegaraan Indonesia sedang mengalami babak baru percobaan mewujudkannya menjadi kenyataan.
Perkembangan dan pertumbuhan bangsa itu dengan sendirinya mendorong berbagai bentuk perubahan sosial. Dan setiap perubahan sosial tidak akan terhindar dari terjadinya berbagai bentuk gesekan atau friksi sosial yang dapat meningkatkan suhu kehidupan di semua bidang.
Perubahan sosial yang berdimensi vertikal, yang terutama menyatakan diri dalam bentuk gerak ke atas atau mobilitas vertikal pasti akan disertai oleh bentuk-bentuk gesekan sosial yang panas, yang dapat mendorong masyarakat kepada situasi kritis seperti yang kini kita alami.
Ketika para pelopor dan pendiri kebangsaan dan negara menetapkan gagasan-gagasan kebangsaan dan kenegaraan yang sangat luhur dengan mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah bangsa-bangsa lain, mereka telah membangun sebuah mercu suar tinggi sebagai pedoman kita membangun bangsa dan negara. Tetapi ketika semua keinginan luhur itu dicoba wujudkan dalam kehidupan nyata, bangsa kita mengalami kesulitan besar, karena antara lain belum tersedianya prasarana sosial dan kultural bangsa untuk mendukungnya.
Tanpa secara tidak adil mengingkari berbagai segi positif yang telah terjadi, proses mewujudkan nilai-nilai luhur yang penuh kesulitan itu menghasilkan rentetan krisis, dilambangkan dalam bagaimana Presiden Sukarno, Presiden Suharto dan Presiden Habibie mengakhiri jabatan mereka, dan dalam bagaimana mereka itu digantikan. Krisis-krisis yang terlibatkan dalam semua proses itu langsung ataupun tidak langsung mengancam kehidupan bangsa dan negara.
Krisis-krisis itu melibatkan segi-segi kenyataan keras dalam sejarah dan budaya berbagai komunitas dalam rumpun kebangsaan kita, yang secara cukup jauh dapat kita tarik ke belakang, ke masa-masa sebelum terbentuknya konsep kebangsaan modern “Indonesia”. Karena itu krisis-krisis tersebut selalu muncul secara tak terelakkan, dan masih terus berlangsung. Dan kelanjutan riak gelombang krisis itu dengan kuat sekali kita rasakan saat-saat sekarang ini, dalam masa kepresidenan KH Abdurrahman Wahid, yang akrab kita kenal dengan Gus Dur.
Karena melibatkan unsur-unsur kenyataan keras tersebut, maka di samping tidak seluruhnya dapat dihindarkan, terjadinya krisis-krisis itu juga tidak mungkin begitu saja diakhiri bentuk-bentuk kelanjutannya seperti yang sekarang kita saksikan dan rasakan. Oleh karena itu, persoalan yang lebih penting ialah, bagaimana proses-proses yang penuh dengan kesulitan itu tidak berkembang menjadi fatal dan melenyapkan fondasi kebangsaan dan kenegaraan kita.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang bangga dengan warisan leluhurnya; bangsa yang ditempa oleh pengalaman pahit-getir kezaliman penjajahan; bangsa yang lahir segar dari pangkuan wawasan bijak-bestari para perintis dan pahlawan; bangsa yang digembleng oleh gegap-gempita revolusi kemerdekaan; bangsa yang dimatangkan dan didewasakan oleh pengalaman-pengalaman pahit proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Kita harus tetap menyadari, bahwa di atas pundak kita terbebankan kewajiban suci mewujudkan cita-cita luhur para pendahulu kita: para perintis kemerdekaan bangsa, para pendiri negara, dan para pahlawan tanah air.
Marilah kita nyatakan kepada seluruh sesama warga negara bahwa sekaranglah saatnya kita bulatkan tekad membuat cita-cita luhur para pendahulu kita itu menjadi kenyataan.
Marilah kita serukan kepada seluruh penduduk negeri bahwa sekarang ini adalah saatnya kita memulai dengan penuh kesungguhan merealisasikan tujuan kita bernegara: mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Marilah kita kumandangkan ke seluruh tanah air, bahwa inilah saatnya kita mengakhiri berbagai pertikaian antara kita sesama warga bangsa; inilah saatnya kita bulatkan tekad untuk memulai lagi pembangunan bangsa yang tertunda; inilah saatnya kita memusatkan fikiran untuk menemukan cara-cara terbaik menciptakan masyarakat yang adil, terbuka dan demokratis.
Memang benar bahwa tidak seluruh pertikaian dalam masyarakat dapat dihindarkan. Kiranya tidak seorangpun mempunyai keberanian untuk mengatakan bahwa seluruh sumber pertikaian itu dapat dilenyapkan. Tetapi setiap orang harus berani menumbuhkan dalam dirinya tekad untuk berkiprah dalam bingkai keadaban dan ketulusan. Kita teguhkan dalam diri kita kesadaran dan penghayatan bahwa keadaban bukanlah kelemahan; dan bahwa ketulusan senantiasa menuntut pembuktian.
Maka marilah kita kembangkan budaya keadaban, civility, dalam menghadapi dan mengatasi persoalan kita bersama, khususnya persoalan pertikaian. Sekali lagi, keadaban bukanlah kelemahan. Keadaban adalah justru merupakan salah satu nilai pokok kemanusiaan. Maka kita laksanakan keadaban bukan karena takut; dan kita tidak boleh takut melaksanakan keadaban.
Berkenaan dengan itu, marilah kita periksa kembali masalah-masalah yang mempertemukan dan mempersatukan kita; dan marilah kita mulai membiasakan diri untuk tidak terjebak ke dalam hal-hal yang membuat kita bertikai dan berpecah belah.
Masa reformasi sekarang ini ditandai dengan kuat sekali oleh ledakan partisipasi. Sekarang, marilah kita arahkan dan kembangkan dinamika itu untuk menjadi pendorong pembangunan dan kemajuan bangsa menuju cita-cita luhurnya.
Marilah, dengan keadaban kemanusiaan, kita cegah agar dinamika bangsa itu tidak salah pengarahan dan berubah menjadi sumber pertikaian dan kekacauan.
Dengan landasan ketulusan hati dan bingkai keadaban itu, kita belajar menyelesaikan segala persoalan kita dalam kesetiaan kepada kesepakatan-kesepakatan sosial dan nasional kita. Setia kepada hukum, konstitusi, dan peraturan-peraturan, demi kebaikan bersama, demi maslahat umum.
Maka kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pertikaian, kita ingin menghimbau untuk secara bersama merenungkan ajaran agama, bahwa membalas kejahatan secara setimpal memang hak setiap orang; tetapi memberi maaf dan berdamai adalah nilai yang lebih luhur, dengan pahala yang ditanggung oleh Tuhan. (Q., 42:40).
Marilah kita berangsur-angsur dan bersungguh-sungguh mulai menempuh jalan perjuangan dalam keteguhan derap langkah mewujudkan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang damai dan bahagia.
Kita renungkan dalam-dalam gambaran Kitab Suci tentang kehidupan surgawi, yang “Disana mereka tidak mendengar ucapan muspra dan tidak pula hujatan tuduhan berdosa, melainkan tegur-sapa ‘damai, damai’.” (Q., 56:25?26).
Kita refleksikan dalam kesucian nurani kita makna ungkapan suci dalam budaya Arab Nasrani, “Damailah di bumi, dan bahagialah semua manusia!” (wa fî ‘l?ard?i’s salâm, wa bi n?’nâs?i ‘l?masarrah”).
Dan kita sambut dengan tulus seruan Paus Yohannes XXIII, Pacem in Terris (Damai di Bumi), sebagaimana John F. Kennedy, Khrushchev dan Bung Karno telah menyambutnya.
Kita dengarkan baik-baik alunan firman suci, “Salam-kedamaian, tegur sapa dari Tuhan Yang Maha Kasih.” (Q., 36:58).
Dan akhirnya, kita tangkap hayati dengan tulus pesan makna dan semangat do’a, “Ya Tuhan, Engkaulah Kedamaian, daripada Engkaulah kedamaian, dan kepada Engkaulah kembali kedamaian; maka, ya Tuhan, berilah kami kehidupan dengan penuh kedamaian, dan masukkanlah kami kedalam negeri kedamaian. Maha Mulia Engkau ya Tuhan, dan Maha Tinggi, wahai Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.”

*”Pesan Damai”, disampaikan pada acara Refleksi Kebudayaan untuk Indonesia Damai, diselenggarakan oleh Forum Indonesia Damai, TIM, Jakarta, 1 Februari 2001

Leave a Reply