kolokium 2

REKONSTRUKSI PARADIGMA

GERAKAN DAKWAH MUHAMMADIYAH1

M. Sukriyanto.A.R.

Pendahuluan

Hampir seratus tahun sudah Muhammadyah bergerak melaksanakan dakwah. Banyak prestasi yang sudah diraih. Di bidang pemikiran (pembaharuan pemahaman agama), pendidikan, sosial, kesehatan Muhammadiyah telah menghasilkan prestasi yang cukup signifikan, setidak-tidaknya secara kuantitatif. Namun di bidang-bidang lain Muhammadiyah masih perlu kerja keras lagi.

Di bidang politik misalnya meskipun beberapa kali terlibat dalam kegiatan politik, kontribusinya masih terlalu sedikit, sehingga produk-produk politik (undang-undang) dan peraturan-peraturan pemerintah, yang berpihak kepada kejujuran, kebenaran dan keadilan masih sangat kurang. Muhammadiyah perlu lebih banyak lagi meningkatkan peran politiknya agar undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah lebih banyak berpihak pada kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Di bidang budaya kontribusi Muhammadiyah juga masih sangat sedikit, sehingga warna budaya Indonesia masih terasa sangat minim. Belum banyak budayawan muslim yang berkarya menciptakan karya-karyanya yang Islami. Misalnya novel, cerpen, puisi, film, sinetron, lagu-lagu, dan karya seni lainnya. Memang sudah ada juga karya-karya yang Islami, akan tetapi belum dapat mengimbangi budaya barat yang mengalir dengan deras. Warna budaya kita sekarang ini cenderung sangat sekuler, kebarat-baratan, hedonistic, konsumeristik dan nativistik

Dalam bidang hukum kontribusi Muhammadiyah juga belum banyak terlihat. Semangat keadilan juga belum banyak terlihat. Yang menonjol adalah pada waktu penyusunan undang-undang perkawinan dan undang-undang pendidikan nasional. Akibatnya sekarang ini masih banyak sekali mafia peradilan yang sangat merugikan masyarakat utamanya masyarakat lapis bawah.

Kontribusi Muhammadiyah dalam bidang ekonomi juga masih sangat sedikit, Masalah-masalah pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, peningkatan kesejahteraan rakyat masih belum banyak terlihat. Kegiatan Muhammadiyah di bidang ekonomi – bisnis masih perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Muhammadiyah perlu tampil untuk menggerakkan perekonomian bangsa utamanya di lapis bawah yakni masyarakat tani, nelayan dan UKM. Muhammadiyah harus merebut kembali posisinya sebagai penggerak perjuangan petani, nelayan dan kelas menengah sebagaimana pada waktu berdiri.. Muhammadiyah perlu kerja keras untuk merebut aset-aset ekonomi.

Dalam pembangunan moral Muhammadiyah perlu bekerja keras untuk mengembalikan watak dan karakter bangsa yang baik, syukur bisa meningkatkan kepribadian bangsa sehingga menjadi bangsa yang berkepribadian unggul dan mulia. Diharapkan bangsa ini bisa menjadi bangsa yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etos kerja yang tinggi, jauh dari narkoba, kemaksiyatan, keserakahan dan sifat-sifat buruk lainnya. .

Untuk peningkatan gerakan dakwah Muhammadiyah tampaknya memang perlu paradigma baru dalam pelaksanaan dakwah. Berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di atas, maka dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Panitia Pengarah, saya mengubah judul makalah ini dari Rekonstruksi Paradigma Gerakan Soaial Dakwah Muhammadiyah, menjadi Rekonstruksi Paradigma Gerakan Dakwah Muhammadiyah.

Pertimbangan saya karena penekanan gerak dakwah Muhammadiyah seharusnya tidak hanya pada gerakan sosial, akan tetapi selain gerakan sosial juga menyangkut gerakan budaya, gerakan politik (bukan sekedar partai politik), gerakan ekonomi, gerakan keadilan, gerakan kemanusiaan dan gerakan perdamaian atau secara singkat sebagai gerakan Islam, dalam pengertian gerakan Islam yang kafah. Kekafahan Islam adalah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang bermuara pada pelaksanaan tugas kekhalifahan.

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam

Sebagaimana telah disinggung di depan, Muhammadiyah hendaknya tidak hanya menekankan sebagai gerakan sosial, tetapi lebih pada sebagai gerakan Islam. Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah tidak boleh hanya menitik beratkan gerakannya pada aspek tertentu yang berakibat kurang perhatian dan lemahnya pada aspek yang lain.

Sebagai gerakan Islam, selain aspeknya meliputi seluruh ajaran Islam (kafah) dan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, maka gerakan Islam itu juga harus tawazun (berkesimbangan) antara satu aspek dengan aspek lainnya. Selain tawazun, juga harus sinergis (saling berhubungan) dalam pengertian unit-unit organisasinya secara dinamis saling berhubungan, saling mendukung, saling menguatkan dalam gerak dan langkahnya,

Selama ini gerakan Muhammadiyah terasa kurang kafah dan kurang seimbang dan kurang sinergis. Gerakan Muhammadiyah terlihat tekanannya baru pada bidang-bidang tarjih, tablig, pendidikan, sosial dan kesehatan. Bidang-bidang ekonomi / bisnis, pengentasan kemiskinan, pengangguran, budaya (khususnya seni), politik nampak kurang mendapat perhatian. Sehingga Muhammadiyah lebih terkesan dan dikenal sebagai gerakan sosial dakwah dari pada sebagai gerakan Islam dan gerakan amar makruf dan nahi mungkar.

Secara teoritik, tidak mungkin Muhammadiyah akan mencapai tujuannya, Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, tanpa menggarap bidang-bidang ekonomi-bisnis, seni-budaya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (research – riset), kemanusiaan, hokum dan keadilan. Sebab misalnya, pendidikannya berkembang pesat, panti asuhannya berkembang, rumah sakitnya berkembang akan tetapi kalau ekonomi-bisnisnya dikuasai non muslim, budayanya sekuler, hedonistic, kebarat-baratan, konsumeristik dan nativistik, undang-undang, system politiknya cenderung liar, system sosialnya kasar / tidak manusiawi, peraturan pemerintah, peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain tidak berpihak kepada keadilan dan rakyat kecil tidak mungkin akan dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Selain dari pada itu selama ini, unit-unit dalam Muhammadiyah terlihat seperti bergerak sendiri-sendiri terlihat kurang ada kesinergisannya (sinergisitasnya). Masing-masing majelis dan lembaga sepertinya kurang terkoordinasi dan tidak bersinergi dengan baik. Masing-masing amal usaha juga terlihat berjalan sendiri-sendiri. Kalau meminjam istilah Al Qur’an belum merupakan bangunan yang padu (tidak merupakan bun ya-nun marshus). Akibatnya banyak masalah-masalah yang ada tidak bisa tertangani dengan baik.

Dalam berdakwah misalnya, pada suatu desa yang miskin, meskipun diceramahi berkali-kali, masyarakatnya tidak tertarik, karena perhatian masyarakat di situ lebih tertuju pada bagaimana mengatasi kekurangan pangan, pendidikan yang mahal untuk anak-anaknya, mencari biaya untuk mengatasi kesehatannya. Berdakwah tidak cukup dengan ceramah saja. Maka kalau ingin berhasil kegiatan ceramah (tablig) juga harus disinergikan / dibarengi dengan pembinaan kesehatan, pembinaan nilai-nilai kemanusiaan, pembinaan ekonomi, pendidikan, ip-tek, kesenian dsb.

Rekontruksi Paradigma Dakwah

Berdasarkan kedua permasalahan di depan, maka dalam rangka melakukan rekonstruksi paradigma dakwah, Muhammadiyah perlu memikirkan kembali hal-hal sebagai berikut :

Pertama, melakukan penegasan kembali akan pentingnya kekafahan Islam, bahwa kekafahan Islam itu meliputi keutuhan ajaran Islam yang harus diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, dalam kehidupan spiritual dan material, dalam ibadah mahdhah dan ibadah a-mmah. Dalam pengamalan dengan ibadah a-mmah selalu menyangkut bidang-bidang, ideology, sosial, seni – kebudayaan, ilmu pengetahuan – teknologi, ekonomi – bisnis, politik – hukum kenegaraan dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak boleh ada yang ditinggalkan, karena meninggalkan salah satu aspek agama akan berakibat fatal.

Kedua, mengkafahkan konsep / pemikiran dakwah, visi dakwah, strategi dakwah dan amal shaleh. Artinya yang didakwahkan harus mencakup keseluruhan ajaran Islam, dan mengamalkan seluruh ajaran Islam pula.

Ketiga, menyeimbangkan keseluruhan gerak pengamalan Islam.

  • Keseimbangan kepentingan keakhiratan dengan keduniaan2.

  • Keseimbangan antara pengamalan ibadah mahdhah dengan ibadah a-mmah

  • Kesimbangan antara pengembangan spiritual dan fisik (kesehatan dan kekuatan), antara ruhani dan jasmani.

  • Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dengan amal. Antara yang ilmiah dan amaliah. Keseimbangan antara konsep dan praksis, antara teori dan praktik. Islam tidak bisa diwujudkan dengan konsep-konsep dan teori-teori saja, tetapi membutuhkan aksi, kegiatan dan pengamalannya.

  • Keseimbangan antara kepentingan individu, keluarga dan masyarakat

  • Kesimbangan antara bidang-bidang ideology – keyakinan dan cita-cita hidup, akhlak, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan – seni, sosial – kemasyarakatan, ekonomi – bisnis, politik – kenegaraan, hukum dan keadilan, keamanan dll.

  • Keseimbangan dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang bersifat rasional (ta’aquli) dan emosional (ta’abudi) Tidak bisa hanya mementingkan yang rasional saja (rasionalistik) dan juga tidak bisa hanya mementingkan yang bersifat emosional (emosionalistik).

Keempat, menjadikan semua amal usaha (sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, poliklinik, rumah sakit, masjid dsb.) sebagai sarana dakwah. Untuk itu Muhammadiyah perlu melakukan revitalisasi Muhammadiyah (revitalisasi ideology, organisasi, kepemimpinan, mubalig, dana, multi media dakwah dll.) Dulu semua amal usaha itu dibangun karena ada kepedulian (mempedulikan) terhadap orang miskin dan dhuafa. Karena perubahan waktu dan situasi, keadaannya menjadi terbalik sekarang masyarakat yang mempedulikan Muhammadiyah (masyarakat yang membantu Muhammadiyah). Ke depan Muhammadiyah yang harus kembali mempedulikan masyarakat.

Kelima, menyinergikan gerak unit-unit organisasi yang ada di persyarikatan. Unit-unit organisasi supaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing unit kerja, satu dengan lainnya harus saling mendukung.

Keenam, semua gerak itu harus terkoordinasikan dalam sebuah struktur organisasi yang rapih, aktif dan dinamis. Ke depan harus diusahakan agar manajemen parsyarikatan bisa cepat dalam pengambilan keputusan.

Ketujuh, Muhammadiyah harus berusaha agar secara bertahap menjadi sebuah organisasi yang mandiri, dan bisa melepaskan diri dari ketergantungan pada pemerintah dan lembaga donor. Bahkan jika mungkin Muhammadiyah harus bisa membantu pemerintah dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Merubah dari organisasi yang dibantu menjadi organiasi yang membantu. Dari al yadu as sufla menjadi al yadu al ‘ulya. Orang-orang Muhammadiyah harus merubah diri dari mentalitas meminta menjadi bermentalitas memberi. Hal ini berarti kembali kepada pesan KHA Dahlan, yaitu Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Penutup

Dari uraian diatas diketahui, bahwa kalau Muhammadiyah ingin membangun paradigma baru sebagai gerakan dakwah dalam arti yang sebenarnya, maka Muhammadiyah harus kembali ke paradigma awal, sebagai gerakan Islam, menegaskan kembali visinya pemurnian sekaligus pembaharuan dan misinya melakukan dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkar, melakukan langkah-langkah strategis yang dapat mengembalikan misi Muhammadiyah dari sekedar sebagai gerakan sosial, menjadi sebuah gerakan dakwah yang handal dan mandiri.

Wallahu’alm bi ash shawwa-b.

Wirokerten, 10 Februari 2008

1 Disampaikan dalam Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Universitas Muhamamdiyah Malang tanggal 11-13 Februari 2008

2 Lihat QS Qashash 77. Perhatikan juga doa dan harapan kita : rabbana a-tina fi ad dunya hasanah wa fi al a-khirati hasanah wa qina ‘adz-b an na-r.

Leave a Reply