Tiga M dalam ‘Bilangan Fu’
31/08/2008 07:29:49
NOVEL terbaru karya Ayu Utami berjudul Bilangan Fu dinilai lebih jelas, tutur bahasanya cair dan lancar dibandingkan dua novel Ayu terdahulu (Larung dan Saman). Di sisi lain, Ayu dianggap berani, karena mengangkat tema keagamaan. Ia mengkritik tajam walaupun dengan bahasa yang halus.
“Apa yang digambarkan dalam novel itu, merupakan realitas yang difiktifkan,” komentar Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Phil Sahiron Syamsudin dalam diskusi dan bedah novel Bilangan Fu, Rabu (27/8) di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN yang diselenggarakan oleh Jaringan Islam Kampus (JARIK) Yogyakarta. Diskusi dengan tema Kebebasan Beragama dalam Karya Sastra Mutakhir itu juga menghadirkan penulis novel Ayu Utami dan peneliti Jaringan Islam Kampus (Jarik), M As’adi.
Sementara, menurut As’adi, Bilangan Fu merupakan pemberontakan Ayu Utami yang tidak menghendaki pengakuan terhadap prinsip-prinsip kebenaran dalam suatu agama apapun, seperti pada kitab suci dan konsep ketuhanan. Selain itu, novel ini merupakan bentuk kritik menyikapi kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang belakangan muncul.
Meski, novel terbaru Ayu Utami ini lebih cair, namun, kata As’adi, tetap membuat pembaca harus berpikir berkali-kali untuk dapat mengerti. “Ada kesan, tema tetap berat,” ucap penyair muda UIN ini, seraya menambahkan, kemungkinan hal yang membingungkan itu akibat loncatan bahasa yang kemudian mengesankan seolah-olah tema tersebut berat.
Ayu Utami sendiri dalam diskusi tersebut tak menampik jika isian dalam novel terbarunya itu merupakan gambaran suasana di negeri ini sepanjang sepuluh tahun terakhir. Gagasan besarnya mengenai tiga M (militerisme, monoteisme dan modernitas).
Ide Ayu dalam novelnya sebenarnya sederhana, yakni, animisme itu lebih ramah, menganggap alam sebagai subjek yang dipuja, sehingga tidak pernah merusaknya. “Sebaliknya, ketika kita menganut monoteisme, alam adalah objek yang dieksploitasi. Monoteisme mengajarkan pada memperbaiki akhirat yang akhirnya merusak dunia,” kata peraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta dan Pince Claus Award dengan novel pertamanya, Saman (1998)itu. (Obi)-s
31/08/2008 16:35:02 PENAMPILAN aktor teater Landung Simatupang (57), kian matang ketika tampil membaca petilan novel ‘Bilangan Fu’ karya Ayu Utami, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (28/8) malam. Bahkan hampir 2 jam Landung mampu menyihir penonton terpukau lewat gerakan dan kalimat yang dibacakan dengan artikulasi jelas di atas pentas. Penonton kebanyakan kawula muda dan tampak hadir budayawan Bakdi Sumanto, sastrawan Rahmat Djoko Pradopo, Sri Widati dan Ayu Utami serta awak teater Yogya. Malam itu, penampilan Landung tak lepas peran ilustrasi musik digarap Agustinus Surono (komposer) didukung pemusik B Anom Dwi Nugroho, Albertus Eko Susilo dan Tomi Simatupang, dengan menggunakan alat musik bonang, gitar, drum dan beberapa perkusi bisa mendukung penampilan Landung di atas pentas.
Ayu Utami merasa senang, melihat penampilan Landung membaca petilan novel ‘Bilangan Fu’ yang dapat memukau penonton Yogya. Respons penonton di Yogya berbeda dengan penonton Jakarta, ketika pembacaan petilan ‘Bilangan Fu’ yang digelar di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta, tanggal 20 Juli 2008, dalam acara peluncuran novel ‘Bilangan Fu’. “Penonton Jakarta lebih responsif saat melihat penampilan Mas Landung tampil membaca petilan Bilangan Fu. Namun penonton Yogya respons lebih memperhatikan dan tampak terpukau. Yang jelas, saya memilih Mas Landung membacakan cerita novel karyaku karena sudah tahu kualitas keaktoran dan pas. Sebelum membaca petilan Bilangan Fu ini, Mas Landung pernah membaca novel berjudul Saman dan Larung,” cerita Ayu Utami, usai sibuk melayani tandatangan sejumlah penonton yang membeli buku novel ‘Bilangan Fu’ di Societet malam itu. (Cil)-o
Filed under: Info Kegiatan