PERBINCANGAN : Bicaralah, Beri Inspirasi Perjuangan Isu Perempuan

PERBINCANGAN : Bicaralah, Beri Inspirasi Perjuangan Isu Perempuan

31/08/2008 07:29:49 

Berbondong-bondongnya perempuan menjadi calon legislatif (caleg) jangan cepat membuat gembira. Karena masih banyak partai politik yang sekadar memanfaatkan perempuan agar menampakkan perubahan. Padahal senyatanya seperti dikemukakan Sosiolog UGM Doktor Partini kala berbicara di Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), senyatanya perempuan hanya alat politik.

Ketentuan 3 in 1 atau dalam setiap urutan 3 calon harus terdapat seorang perempuan caleg, menjadi pekerjaan rumah (PR) yang tidak ringan. Apalagi konsep zig-zag dalam arti berselang-seling pencalegan antara laki-laki dan perempuan pun menurut Partini ketika ditemui di ruang kerja Jurusan Sosiologi masih belum dilaksanakan dengan maksimal. “Banyak faktor yang menyebabkan hal itu belum dilaksanakan,” ungkap Ketua Jurusan Sosiologi UGM tersebut.
Sebagai intelektual yang banyak berjuang dalam keadilan sosial, ada hal yang diprihatinkan Partini ketika fungsi partai sebagai kendaraan politik lebih diorientasikan untuk mendapatkan kekuasaan semata. Dengan cara ini seseorang yang akan mencalonkan atau dicalonkan harus memiliki modal besar. Karena modal dapat memobilisasi massa dengan mudah, terutama bagi kelompok miskin.
“Jika yang selalu muncul adalah logika bahwa politik perlu modal besar, maka perempuan tidak akan pernah bisa meraih seperti laki-laki. Masalah ini akan membuat perempuan ‘layu sebelum berkembang’, meski SDM-nya memadai,” tandasnya dengan nada berapi-api.
Kini, bakal calon legislatif (bacaleg) sudah masuk ke KPU. KPU-pun sudah menyampaikan lewat media, berapa perempuan caleg dalam setiap daftar yang diajukan masing-masing partai. Apa pandangannya tentang keterwakilan perempuan tersebut? Suatu siang di ruang kerjanya, Partini menyampaikan pandangan, masukan, kritik dan juga harapan akan hal tersebut.

Masalah keterwakilan 30% sudah semakin jelas karena sudah ada ketentuan undang-undang. Tetapi bagaimana Anda melihat pencalegan seperti sekarang?
Dari 38 partai, rasanya pencalegan ini  belum semua memenuhi syarat. Mungkin karena parpol sendiri kurang siap ya.
Jika ditanya dimana kekurangsiapannya? Karena di dalam pikiran mereka, perempuan mungkin tidak pantas. Kedua, dalam persepsi laki-laki, perempuan tak berani bersaing dalam meng-goal-kan sebuah program. Ini bisa jadi muncul karena dari hasil penelitian, perempuan yang sudah menjadi anggota legislatif, meski tingkat kehadiran 100% tapi ide tidak banyak. Dengan kata lain, mereka hanya 3D: datang, diam, duit.
Itu sebabnya saya katakan, human capital dari sisi perempuan harus diperbaiki agar tidak dilecehkan.

Tapi ini tentu tak lepas dari pendidikan dan untuk politik startnya sudah tidak sama antara laki-laki dan perempuan?
Mungkin iya. Tapi menurut saya, semua ini tidak lepas karena perempuan itu kurang berani ngomong. Saya kira kita jangan selalu mengkambinghitamkan  kultur. Tapi sadarilah sudah bukan waktunya perempuan diem, harus berani bicara, sehingga berani goal-kan isu-isu perempuan. Yang diprihatinkan sekarang, keterwakilan perempuan sekarang tidak bisa menjamin meng-goal-kan isu-isu perempuan. Fakta inilah yang kemudian  dicitrakan laki-laki:  belum saatnya bisa bersaing dengan laki-laki.

Artinya, itu sengaja dicitrakan laki-laki. Kalau demikian lantas bagaimana  ‘memerbaiki’ kondisi ini?
Peningkatan  human capital. Caranya banyak sekali, pendidikan, oke bisa formal informal, pengalaman, training yang banyak dilakukan dan ini bisa mendorong untuk berani berbicara di muka umum. Sebenarnya perempuan pinter, hanya tidak berani mengemukakan pendapat.

Tapi kalau dirunut, bukankah ini tak lepas dari sistem pendidikan kita selama ini yang masih juga dilanggengkan bahwa perempuan baik-baik adalah yang diam, nurut?
Sekarang saya kira sudah bukan waktunya untuk itu. Mestinya! Kalau kita masih bicara perempuan yang baik itu diem dan nurut, itu kuna dan sudah harus ditinggal. Persaingan global sudah lagi tidak mempedulikan jenis kelamin.

Tetapi meski tidak mengkambinghitamkan kultur, itu masih dilanggengkan?
Ajaran itu tak harus leterlijk diterima, tapi secara sosiologis pengaruh lingkungan besar, tidak hanya keluarga, tapi lingkungan kita adalah lebih luas, environment bukan in-family.
Kenapa dosen itu berani ngomong, karena lingkungan menuntut seperti itu. Kalau lingkungan bisa memberikan nuansa bisa bicara, tentu berani. Tapi untuk berani bicara ia harus punya konsep, untuk punya konsep ia human capital-nya harus ada. Berarti menurut saya, agar supaya kita tidak dicitrakan the second sex, harus meningkatkan diri dengan sebuah kesadaran. Kalau tidak bisa meningkatkan diri sendiri, ya akan dilecehkan.
Perempuan harus berdaya. Kalau hanya didorong-dorong, affirmative action, jadinya hanya pelecehan. Tahap pertama adalah affirmative action, tapi tidak terus menerus.

Tahap untuk pemilu besok masih ‘affirmative action’
Ini masa transisi, sudah sejak 2004. saya kira transisi untuk ke sana 2-3 periode. Kita masih butuh affirmative action dan buktinya didukung undang-undang. Kalau sudah di-goal-kan, perempuan tidak berdayakan diri, sama saja. Perempuan tidak akan berkembang dan kuncinya adalah affirmative action. Ini yang selalu saya dengungkan di mana-mana.
Human capital harus kita tingkatkan, kalau tidak bisa melalui pendidikan formal melalui yang lain. Ada 3: pengalaman, pendidikan formal dan  ketiga pendidikan non-formal lewat training sehingga berani mengungkapkan pendapat. Tapi perlu dipahami, ini bukan asal ngomong, jangan-jangan nanti diinterpretasikan asal, Jadi harus punya konsep.

Dengan banyak training untuk perempuan, sudahkah Anda melihat ada perubahan ke arah yang lebih baik bagi perempuan?
Sedikit. Tapi kalau tidak diimplementasikan, tidak dikembangkan terus menerus, pada lingkungan lebih luas tidak akan bisa lagi.

Tetapi dalam partai yang masih paternalistik bagaimana?
Persoalan banyak. Yang penting, jangan biarkan perempuan ‘layu sebelum berkembang’. Pencalegan itu butuh duit dan perempuan tidak punya dana dan tidak bisa mengambil risiko. Sebenarnya perempuan bukan tidak berani mengambil risiko, tapi dia akan berpikir panjang. Mengapa? Karena konsep harta itu milik suami, milik orangtua, bukan milik perempuan.
Kalau pencalegan tak pakai duit, tinggi peluang perempuan bisa berhasil. Jadi banyak masalah yang menghadapi perempuan: kultur, citra, uang dan yang lainnya.

Anda melihat bahwa menjadi perempuan lebih sulit untuk memasuki ranah politik?
Sebenarnya tidak sesulit itu, tinggal bagaimana kita memaknai hidup kita. Tinggal bagaimana tujuan hidup kita. Jika seseorang tujuan hidupnya adalah bermanfaat bagi orang lain, seorang anggota legislatif juga harus berprinsip bermanfaat bagi orang lain. Caranya? Ya tingkatkan pengetahuan diri agar bisa bermanfaat bagi orang lain.
Kadang-kadang orang itu sebenarnya perlu pengetahuan yang luas. Tetapi jangan-jangan sebagai anggota legislatif dia tak pernah membaca. Membaca itu jendela dunia. Bagaimana dia bisa bicara kalau tidak pernah punya wawasan lewat membaca? Itu bisa dilatihkan.

Bagi Partini, mewujudkan keadilan dan kesetaraan jender bukan semudah membalikkan tangan. Banyak hal yang harus dilakukan dari kedua sisi: perempuan dan laki-laki. Namun sekarang harusnya, kata Partini, perlu dimunculkan kesadaran untuk memberdayakan diri bagi perempuan sendiri.
“Jangan menunggu diberdayakan. Tapi perempuan harus memberdayakan diri. Dan perempuan harus sadar untuk ini. Dengan kesadaran ini, usai training dan pemberdayaan tidak menjadi entah,” tandasnya dengan nada berapi-api.

Pernah ada sistem ‘zig-zag’ agar kuota keterwakilan perempuan bisa terpenuhi. Namun sekarang justru partai-partai mencanangkan perwakilan dengan suara terbanyak. Bagaimana Anda melihat ini, peluang atau hambatan bagi perempuan?
Jawabnya bisa ya atau tidak. Bisa mengangkat apabila ada kesadaran sesama perempuan untuk memilih perempuan. Sebab pemilih itu masih lebih banyak perempuan. Di sini harus ‘ditantang’: “bisa tidak perempuan dalam satu kata?”
Gerakan feminis yang global, ideologinya adalah menganggap perempuan di seluruh dunia sebagai saudara dengan cita-cita mengangkat harkat dan martabat perempuan. Jika ini bisa, maka perempuan akan mendapat peluang. Kalau kita belum bisa menganggap seperti itu, sudah tahu apa yang akan terjadi.
Saya sedih. Sekarang ini sesama perempuan masih menganggap sebagai pesaing. Apa yang bisa dilihat? Anda bisa membaca sendiri…. Yang tidak kalah menyedihkan, perempuan sukses selalu dicitrakan negatif.

Apa menurut Anda harus ada alarm untuk mengingatkan sesama perempuan?
Ya. Mengapa? Pengalaman saya kuliah, perempuan nilainya bagus, tapi gak berani ngomong. Kini satu dua mulai muncul dan kalau muncul diperhitungkan. Dan saya kira sudah mulai luntur yang takut dengan perempuan pinter.
Penelitian saya, laki-laki dalam mencari istri tidak lagi memilih perempuan yang lebih rendah pendidikan, asal cantik meski agak bodoh, berpangkat lebih rendah dan sejenisnya. Saya menilai, laki-laki sekarang sudah mulai lebih rasional.
Maka saya bicara jender adalah bicara ketidakadilan bukan lagi mempertentangkan laki-laki perempuan. Tadi dalam kuliah jender ada yang  bertanya: “dimana ketidakadilan itu dalam praksis? Apa Ibu bisa menunjukkan contohnya?”
Wah…. ini, saya ‘kan harus menjelaskan dan membuat dia ngeh mengenai ketidakadilan yang ada dan dialami perempuan. Sebenarnya kalau kita sadar kita diperhitungkan. Inilah alarm itu.

Maksud Anda?
Siapapun di politik harus siap bekerja keras. (Partini meminta agar kata ‘perang’ tidak ditonjolkan supaya tidak dikonotasikan negatif dan penuh kekerasan.) Saya hanya membahasakan perempuan harus berani mengemukakan pendapat, beri inspirasi pada lingkungan bahwa dia sedang dalam proses memerjuangkan isu-isu perempuan.
Jadi perempuan di politik jangan kebatinan. Dalam diskusi, ngomong-a. Saya orang sosiologi, jadi harus berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berani mengemukakan pendapatnya, orang lain akan tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dengan demikian semua akan bisa memahami bahkan ikut memerjuangkan.
Itulah yang dalam bahasa saya singkat: human capital. Yang saya katakan di LSIP kemudian juga ada social capital: networking? Jangan hanya ngomong thok, namun juga harus ada jaringan.

Jaringan itu luar biasa. Sejak 1999 jaringan itu sudah terbangun tapi tidak ada keberlanjutan. Apakah ini tipologi jaringan perempuan?
Tipologi? Angel iki. Harus diakui, kalau saya lihat jaringan yang kuat ada di LSM. Tapi untuk partai, masih kurang, karena networking yang muncul itu lebih pada antar-individu, antar-jenis kelamin, antar-agama. Padahal harus lintas. Kemampuan perempuan untuk dapat networking berapa, kalau punya jaringan yang bagus, Why not?
Memang ini kita masih dalam masa transisi. Dan transisi itu apapun bisa dilakukan tapi bagaimana sesungguhnya orang bisa menyuarakan kepentingan perempuan. Isu-isu yang berkaitan dengan perempuan mohon didengarkan dan diperjuangkan. Isu ini jangan hanya disuarakan perempuan, tapi kita bisa membuka mata, ada laki-laki yang concern. Bagaimana juga dua manusia ini menjadi pasangan untuk menegakkan kehidupan. Sebab bagaimanapun juga perempuan diberdayakan, tapi kalau laki-laki menutup mata dengan perubahan ini, ya susah. Akan njomplang.

Sekarang masih masa transisi dan butuh 2-3 periode dan sudah dimulai 1999. saya kira perjalanan masih panjang. Bagaimana pandangan Anda?
Ya, sekarang belum terpenuhi tapi berharap meningkat secara kualitatif dan kuantitatif. Mudah-mudahan pada pemilu 2014 benar-benar sudah terpenuhi.  Harapan lagi, parpol juga bisa mengantisipasi keterwakilan perempuan.

Pencalegan sekarang juga memunculkan banyak artis dan dinasti. Jika demikian, masihkah ada harapan?
Kalau artis berdaya, tidak masalah. Sekarang ini orang masih bisa mengatakan, artis hanya sebagai mesin penggerak roda suara. Saya tidak bisa mengatakan, apakah akan berhasil? Jumlah artis tidak banyak. Sehingga masih berharap tokoh yang bukan artis, masih bisa muncul dengan perkembangan ke depan.
Itu sebabnya dalam mengajarkan jender tak lagi bedakan laki-laki perempuan, kuna. Namun kalau ditanya, sekarang di masa transisi bisakah ini berhasil?
Saya tak bisa memrediksi. Sebab mereka hanya terkenal karena public figure. Harapan saya dengan yang saya sampaikan adalah orang yang berpendidikan apalagi berpendidikan politik bisa bermunculan. Saya tidak menafikan artis, karena ini pasar bebas. Tapi berdayakanlah diri sendiri. Supaya nanti kalau benar-benar masuk karena suara terbanyak, tidak dilecehkan. Kalau dilecehkan, ini hanya akan memperburuk dan melecehkan perempuan itu sendiri.          

Jadi masa transisi ini menurut Anda bagaimana?
Globalisasi sudah berjalan. Bisa tidak 5 tahun ini memberdayakan. Pendidikan semakin tinggi, terutama mereka yang punya pendidikan politik, yang berpengetahuan luas, itu bisa bermunculan. Ini lebih baik. Kemunculan artis mestinya menjadi pemicu tampilnya perempuan terdidik, berani bicara dan paham dengan isu-isu perempuan.
  (Fadmi Sustiwi)-k

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=175831&actmenu=46

’Bilangan Fu’ Tampil Memukau

Tiga M dalam ‘Bilangan Fu’

31/08/2008 07:29:49 

NOVEL terbaru karya Ayu Utami berjudul Bilangan Fu dinilai lebih jelas, tutur bahasanya cair dan lancar dibandingkan dua novel Ayu terdahulu (Larung dan Saman). Di sisi lain, Ayu dianggap berani, karena mengangkat tema keagamaan. Ia mengkritik tajam walaupun dengan bahasa yang halus.
“Apa yang digambarkan dalam novel itu, merupakan realitas yang difiktifkan,” komentar Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Phil Sahiron Syamsudin dalam diskusi dan bedah novel Bilangan Fu, Rabu (27/8) di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN yang diselenggarakan oleh Jaringan Islam Kampus (JARIK) Yogyakarta. Diskusi dengan tema Kebebasan Beragama dalam Karya Sastra Mutakhir itu juga menghadirkan penulis novel Ayu Utami dan peneliti Jaringan Islam Kampus  (Jarik), M As’adi.
Sementara, menurut As’adi, Bilangan Fu merupakan pemberontakan Ayu Utami yang tidak menghendaki pengakuan terhadap prinsip-prinsip kebenaran dalam suatu agama apapun, seperti pada kitab suci dan konsep ketuhanan. Selain itu, novel ini merupakan bentuk kritik menyikapi kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang belakangan muncul.
Meski, novel terbaru Ayu Utami ini lebih cair, namun, kata As’adi, tetap membuat pembaca harus berpikir berkali-kali untuk dapat mengerti. “Ada kesan, tema tetap berat,” ucap penyair muda UIN ini, seraya menambahkan, kemungkinan hal yang membingungkan itu akibat loncatan bahasa yang kemudian mengesankan seolah-olah tema tersebut berat.
Ayu Utami sendiri dalam diskusi tersebut tak menampik jika isian dalam novel terbarunya itu merupakan gambaran suasana di negeri ini sepanjang sepuluh tahun terakhir. Gagasan besarnya mengenai tiga M (militerisme, monoteisme dan modernitas).
Ide Ayu dalam novelnya sebenarnya sederhana, yakni, animisme itu lebih ramah, menganggap alam sebagai subjek yang dipuja, sehingga tidak pernah merusaknya. “Sebaliknya, ketika kita menganut monoteisme, alam adalah objek yang dieksploitasi. Monoteisme mengajarkan pada memperbaiki akhirat yang akhirnya merusak dunia,” kata peraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta dan Pince Claus Award dengan novel pertamanya, Saman (1998)itu.  (Obi)-s

31/08/2008 16:35:02 PENAMPILAN aktor teater Landung Simatupang (57), kian matang ketika tampil membaca petilan novel ‘Bilangan Fu’ karya Ayu Utami, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (28/8) malam. Bahkan hampir 2 jam Landung mampu menyihir penonton terpukau lewat gerakan dan kalimat yang dibacakan dengan artikulasi jelas di atas pentas. Penonton kebanyakan kawula muda dan tampak hadir budayawan Bakdi Sumanto, sastrawan Rahmat Djoko Pradopo, Sri Widati dan Ayu Utami serta awak teater Yogya. Malam itu, penampilan Landung tak lepas peran ilustrasi musik digarap Agustinus Surono (komposer) didukung pemusik B Anom Dwi Nugroho, Albertus Eko Susilo dan Tomi Simatupang, dengan menggunakan alat musik bonang, gitar, drum dan beberapa perkusi bisa mendukung penampilan Landung di atas pentas.
Ayu Utami merasa senang, melihat penampilan Landung membaca petilan novel ‘Bilangan Fu’ yang dapat memukau penonton Yogya. Respons penonton di Yogya berbeda dengan penonton Jakarta, ketika pembacaan petilan ‘Bilangan Fu’ yang digelar di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta, tanggal 20 Juli 2008, dalam acara peluncuran novel ‘Bilangan Fu’. “Penonton Jakarta lebih responsif saat melihat penampilan Mas Landung tampil membaca petilan Bilangan Fu. Namun penonton Yogya respons lebih memperhatikan dan tampak terpukau. Yang jelas, saya memilih Mas Landung membacakan cerita novel karyaku karena sudah tahu kualitas keaktoran dan pas. Sebelum membaca petilan Bilangan Fu ini, Mas Landung pernah membaca novel berjudul Saman dan Larung,” cerita Ayu Utami, usai sibuk melayani tandatangan sejumlah penonton yang membeli buku novel ‘Bilangan Fu’ di Societet malam itu.                                      (Cil)-o

teladan?

Harapan Besar untuk Kwik

Sebagai mahasiswa saya masih menaruh harapan besar kepada Kwik Kian Gie, yang berani berbicara lantang terhadap pemerintahan partainya dan akan terus berjuang mewujudkan clean government dan good governance yang hampir lenyap dari Republik ini.

Kwik Kian Gie sosok nasionalis yang patut ditiru pejabat lainnya. Pejabat jangan hanya diam bersikap masa bodoh terhadap keberlangsungan negeri ini.Rasa nasionalisme Kwik cukup tinggi.

Sulit sekali mencari elite lainnya macam itu. Seandainya para pejabat yang mengisi pemerintahan sekarang, baik di pusat maupun di daerah-daerah, sikap dan sepak terjangnya seperti Kwik, niscaya bangsa ini akan segera bisa mengakhiri krisis yang sudah melilit selama lebih kurang lima tahun.

Seperti diulas sebuah stasiun televisi swasta (24/2), bahwa hampir tiap tahun terjadi penguapan uang yang entah ke mana perginya, sampai sekitar Rp 400 trilyun. Saya kira ini bukan jumlah yang sedikit. Seandainya hal itu tidak terjadi bukankah kita sudah bisa keluar dari krisis ekonomi?

Mahasiswa akan selalu berdiri di belakang orang-orang yang meneriakkan kebenaran, dengan menentang kolusi, korupsi, dan nepotisme yang terjadi di negeri ini.

Untuk Kwik Kian Gie tetaplah menjadi Kwik Kian Gie yang selalu kritis pada siapa pun demi kepentingan kebenaran. Selamat berjuang! SUBKHI RIDHO Jl Glagahsari Umbulharjo, Yogyakarta

Kompas, Sabtu, 22Maret 2003

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0303/22/opini/198029.htm

resensi buku

Perempuan, Agama & Demokrasi

Diperbaharui
: Senin, 05 Mei 2008
Ditulis oleh: Subkhi Ridho
Cetak | Kirim | Komentar (0) | Pendapat

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, perempuan selalu memunyai andil penting. Buktinya adalah peran aktif perempuan dalam pergerakan nasional pra dan pasca kemerdekaan. Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Dewi Sartika, dan RA Kartini hanyalah beberapa nama yang biasa disebutkan. Namun, peran penting perempuan ini sering kali dipandang sebelah mata. Keterlibatan perempuan dalam perjuangan pergerakan masih dianggap tidak sebanding dengan laki-laki. Continue reading

sayembara menulis a wahib

Sayembara Penulisan Esai Ahmad Wahib Award 2008

Sayembara Penulisan Esai Ahmad Wahib Award 2008

Forum Muda Paramadina, Himpunan Mahasiswa
Falsafah dan Agama (HIMAFA) Universitas Paramadina, dan Soetrisno Bachir
Foundation menyelenggarakan sayembara penulisan esai Ahmad Wahib Award bagi
mahasiswa (S1) seluruh Indonesia.

Total hadiah: Rp.
45 Juta. Continue reading

Pernyataan Sikap Prodem

Aji Damai: Wujudkan Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia

Tiga bulan lalu, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah sesat dan harus dibubarkan dari Indonesia, yang merupakan kelanjutan dari fatwa tahuan 1980-an. MUI sendiri adalah salah satu anggota dari Bakor Pakem. Juga tiga bulan lalu, institusi Kejaksaan, dalam hal ini Bakor Pakem, menunda memutuskan tentang keberadaan Ahmadiyah, dengan memberikan kesempatan 3 bulan buat Ahmadiyah untuk bisa menunjukkan bahwa ia tidak sebagaimana difatwakan MUI. Continue reading

foto kegiatan

\"di Candi Prambanan\" LAGI DI CANDI PRAMBANAN RENSTRA JARIK JOGJA

persiapan bedah film persiapan bedah film

bedah film mau dimulaidiskusi ria